<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Syauqi80&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://syauqi80.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syauqi80.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jul 2009 03:53:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='syauqi80.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Syauqi80&#039;s Blog</title>
		<link>http://syauqi80.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://syauqi80.wordpress.com/osd.xml" title="Syauqi80&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://syauqi80.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kumpulan Artikel</title>
		<link>http://syauqi80.wordpress.com/2009/07/13/kumpulan-artikel/</link>
		<comments>http://syauqi80.wordpress.com/2009/07/13/kumpulan-artikel/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 03:53:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syauqi80</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syauqi80.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Muqaddimah Segala puji hanya milik Allah, kami memuji, meminta pertolongan, memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan jiwa - jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tak ada seorangp un yang dapat menyesatkan jalannya dan barangsiapa yang telah disesatkan -Nya, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syauqi80.wordpress.com&amp;blog=8238212&amp;post=17&amp;subd=syauqi80&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Muqaddimah</strong></p>
<p>Segala puji hanya milik Allah, kami memuji, meminta pertolongan, memohon ampun dan</p>
<p>bertaubat kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan jiwa -</p>
<p>jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami.</p>
<p>Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tak ada seorangp un yang dapat</p>
<p>menyesatkan jalannya dan barangsiapa yang telah disesatkan -Nya, maka tiada</p>
<p>seorangpun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya.</p>
<p>Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada</p>
<p>sekutu bagi-Nya. Dan saya brsaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan tuusan -</p>
<p>Nya.</p>
<p>Semoga shalawat dan salam serta berkah Allah senantiasa tercurah kepada beliau,</p>
<p>keluarga, dan sahabat-sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka</p>
<p>hingga akhir zaman.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syauqi80.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syauqi80.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syauqi80.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syauqi80.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syauqi80.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syauqi80.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syauqi80.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syauqi80.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syauqi80.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syauqi80.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syauqi80.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syauqi80.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syauqi80.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syauqi80.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syauqi80.wordpress.com&amp;blog=8238212&amp;post=17&amp;subd=syauqi80&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syauqi80.wordpress.com/2009/07/13/kumpulan-artikel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18790acf05d4d1e9ad440d15d865b866?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syauqi80</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Birrul Walidain</title>
		<link>http://syauqi80.wordpress.com/2009/07/13/birrul-walidain/</link>
		<comments>http://syauqi80.wordpress.com/2009/07/13/birrul-walidain/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 03:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syauqi80</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syauqi80.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Birrul Walidain Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai harta milikku dalam pembelanjaan. Apakah yang demikian ini benar?” Maka jawab Rasulullah, “Dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orang tuamu.” (Riwayat Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah). Begitulah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syauqi80.wordpress.com&amp;blog=8238212&amp;post=26&amp;subd=syauqi80&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Birrul Walidain</p>
<p>Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai harta milikku dalam pembelanjaan. Apakah yang demikian ini benar?” Maka jawab Rasulullah, “Dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orang tuamu.” (Riwayat Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah). Begitulah, syari’at Islam menetapkan betapa besar hak-hak orang tua atas anaknya. Bukan saja ketika sang anak masih hidup dalam rengkuhan kedua orang tuanya, bahkan ketika ia sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Tentu saja hak-hak yang agung tersebut sebanding dengan besarnya jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan. Sehingga tak mengherankan jika perintah berbakti kepada orang tua menempati ranking ke dua setelah perintah beribadah kepada Allah dengan mengesakan-Nya. Allah berfirman, “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu.” (An-Nisa:36) Birrul Walidain, Bagaimana Caranya? Sebagai anak, sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengekspresikan rasa bakti dan hormat kita kepada kedua orang tua. Memandang dengan rasa kasih sayang dan bersikap lemah lembut kepada mereka pun termasuk birrul walidain. Allah berfirman, “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (Al-Isra’:23) Dalam kitab “Adabul Mufrad, Imam Bukhari mengetengahkan sebuah riwayat bersumber dari Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir melalui Urwah, menjelaskan mengenai firman Allah : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” Maka Urwah menerangkan bahwa kita seharusnya tunduk patuh di hadapan kedua orang tua sebagaimana seorang hamba sahaya tunduk patuh di hadapan majikan yang garang, bengis, lagi kasar. Pada suatu ketika, ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia bersama seorang laki-laki lanjut usia. Rasulullah bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Maka jawab laki-laki itu, “Ini ayahku”. Rasulullah kemudian bersabda, “Janganlah kamu berjalan di depannya, janganlah kamu duduk sebelum dia duduk, dan janganlah kamu memanggil namanya dengan sembarangan serta janganlah kamu menjadi penyebab dia mendapat cacian dari orang lain.” (Imam Ath-Thabari dalam kitab Al-Ausath). Berbakti kepada orang tua tak terbatas ketika mereka masih hidup, tetapi bisa dilakukan setelah mereka wafat. Hal itu pernah ditanyakan oleh seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah menjawab, “Yakni dengan mengirim doa (mendo’’akan-red) dan memohonkan ampunan . Menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan kedua orang tua, memelihara hubungan silaturahim sera memuliakan kawan dan kerabat orang taumu.” Demikian Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban meriwayatkan bersumber dari Abu Asid Malik bin Rabi’ah Ash-Sha’idi. Bukan dalam Syirik dan Maksiyat. Meski kita diperintah untuk taat dan patuh kepada mereka, namun hal itu tak berlaku ketika keduanya memerintahkan kita untuk menyekutukan Allah dan bermaksiyat kepada-Nya. Rasulullah bersabda,”Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiyat kepada Allah.” (Riwayat Ahmad). Kita tentu ingat kisah seorang sahabat, Sa’ad bin Waqash yang diberi dua buah opsi oleh ibunya yang masih musyrik: kembali kepada kemusyrikan atau ibunya akan mogok makan dan minum sampai mati. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari tiga malam, beliau berkata,”Wahai Ibu, seandainya Ibu memiliki 1000 jiwa kemudian satu per satu meninggal, tetap aku tidak akan meninggalkan agama baruku (Islam). Karena itu, terserah ibu mau makan atau tidak.” Melihat sikap Sa’ad yang bersikeras itu maka ibunya pun menghentikan aksinya. Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman:15). Jadi, kalau ortu ngajak ke arah kemusyrikan maka tidak wajib kita mentaati mereka. Hanya saja sebagai anak tetap berkewajiban bergaul dengan baik selama di dunia. Sikap santun harus senantiasa dijaga. Awas: Durhaka! Durhaka kepada orang tua (‘uquuqul walidain) termasuk dalam kategori dosa besar. Bentuknya bisa berupa tidak mematuhi perintah, mengabaikan, menyakiti, meremehkan, memandang dengan marah, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan perasaan, sebagaimana disinggung dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan ‘ah’ kepada orang tua.” (Al-Isra’ : 23). Jika berkata ‘ah/cis/huh’ saja nggak boleh, apalagi yang lebih kasar daripada itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat hati orang tua sedih, berarti dia telah durhaka kepadanya.” (Riwayat Bukhari). Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda, “Termasuk perbuatan durhaka seseorang yang membelalakkan matanya karena marah.” (Riwayat Thabrani). Orang tua kita, siapa pun orangnya, memang harus dihormati, apalagi jika beliau seorang muslim. Rasulullah pernah berpesan, “Seorang muslim yang mempunyai kedua orang tua yang muslim, kemudian ia senantiasa berlaku baik kepadanya, maka Allah berkenan membukakan dua pintu surga baginya. Kalau ia memiliki satu orang tua saja, maka ia akan mendapatkan satu pintu surga terbuka. Dan kalau ia membuat kemurkaan kedua orang tua maka Allah tidak ridha kepada-Nya.” Maka ada seorang bertanya, “Walaupun keduanya berlaku zhalim kepadanya?” Jawab Rasulullah, “Ya, sekalipun keduanya menzhaliminya.” (Riwayat Bukhari). Berhubungan dengan orang tua memang harus hati-hati. Jangan sampai hanya karena emosi, kelalaian, ketidaksabaran plus rasa ego kita yang besar, kita terjerumus ke dalam ‘uququl walidain yang berarti kemurkaan Allah. Na’udzubillah. Bukankah dalam sebuah hadits Rasulullah pernah berpesan bahwa keridhaan Allah shubhaana wa ta&#8217;ala berada dalam keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orang tua? Dus, selagi masih ada waktu dan kesempatan, tunjukkanlah cinta, sayang, hormat, dan bakti kita kepada keduanya, hanya untuk satu tujuan: meraih cinta, ampunan, pahala, dan ridha-Nya…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syauqi80.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syauqi80.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syauqi80.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syauqi80.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syauqi80.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syauqi80.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syauqi80.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syauqi80.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syauqi80.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syauqi80.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syauqi80.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syauqi80.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syauqi80.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syauqi80.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syauqi80.wordpress.com&amp;blog=8238212&amp;post=26&amp;subd=syauqi80&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syauqi80.wordpress.com/2009/07/13/birrul-walidain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18790acf05d4d1e9ad440d15d865b866?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syauqi80</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hilangnya Rasa Malu</title>
		<link>http://syauqi80.wordpress.com/2009/06/19/hilangnya-rasa-malu/</link>
		<comments>http://syauqi80.wordpress.com/2009/06/19/hilangnya-rasa-malu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 03:27:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syauqi80</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syauqi80.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Khususnya kaum wanita, dimana wanita sangat beruntung dianugerahi fitrah penciptaannya dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria. Namun ironisnya, di zaman ini, banyak wanita yang justru merasa malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syauqi80.wordpress.com&amp;blog=8238212&amp;post=3&amp;subd=syauqi80&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top:0;margin-bottom:5px;" align="justify">Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Khususnya kaum wanita, dimana wanita sangat beruntung dianugerahi fitrah penciptaannya dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:5px;" align="justify">
Namun ironisnya, di zaman ini, banyak wanita yang justru merasa malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakkan jauh-jauh sifat mulia yang terpuji ini. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai kaum wanita yang lebih tidak tahu malu dari pada laki-laki.</p>
<p>Mempunyai sifat malu bukan berarti menjadikan kita rendah diri, minder, atau tidak pede. Apalagi gara-gara ketidakpedean itu kita jadi urung melakukan kebaikan, amal shalih, dan menuntut ilmu. Jika hal itu terjadi pada diri kita, cobalah kita berintrospeksi, apakah sebenarnya malu yang kita rasakan itu karena Allah Subhaanahu Wata&#8217;ala atau karena manusia? Misalnya saja kita malu memakai jilbab yang syar’i, malu menunjukkan jati diri sebagai seorang pria Muslim atau malu pergi ke majelis taklim. Apakah malu yang demikian ini karena Allah Subhaanahu Wata&#8217;ala atau hanya rasa malu, ketakutan dan kecemasan kita kepada selain-Nya? Padahal, malu kepada Allahlah yang seharusnya kita utamakan. Bukankah Allahlah yang paling berhak untuk kita malu kepada-Nya?</p>
<p>Al-Qurthubi—rahimahullah—berkata, “Al-Musthafa (Nabi Muhammad) Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam adalah orang yang pemalu. Beliau menyuruh (umatnya) agar mempunyai sifat malu.”</p>
<p>Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa malu tidak dapat merintangi kebenaran yang beliau katakan atau menghalangi urusan agama yang beliau jadikan pegangan. Seperti firman Allah Subhaanahu Wata&#8217;ala yang artinya, “Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (QS: Al-Ahzab: 53).</p>
<p>Sifat malu memang adakalanya harus disingkirkan, yaitu saat kita menuntut ilmu. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu &#8216;Anhu pernah berkata, “Orang yang tidak tahu tidak selayaknya malu bertanya, dan orang yang ditanya tidak perlu malu bila tidak mengetahuinya untuk mengatakan, “Saya tidak tahu”.”</p>
<p>Tabi’in yang mulia Mujahid—rahimahullah—berkata, “Orang yang pemalu dan sombong tidak akan bisa mempelajari ilmu.”</p>
<p>Karena itu, peliharalah rasa malu, karena rasa malu merupakan akhlak yang sangat terpuji, dan tanpa rasa malu akan mengakibatkan kehancuran pada diri sendiri, atau orang lain, bahkan bangsa kita ini, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam,</p>
<p>&#8220;Jika Allah hendak menghancurkan suatu kaum (negeri), maka terlebih dahulu dilepaskannya rasa malu dari kaum itu.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna, selain bentuk fisik yang bagus, ia pun dianugerahi Allah Subhaanahu Wata&#8217;ala kemampuan berpikir melalui akal. Dengan modal akal ini, manusia dapat mempertahankan predikat kemuliaan dan kesucian fitrahnya. Tanpa memanfaatkan akal yang sehat, manusia akan terjerembab ke jurang kehinaan.</p>
<p>Malu adalah satu akhlak yang menghiasi perilaku manusia dengan cahaya dan keanggunan yang ada padanya. Inilah akhlak terpuji yang ada pada diri seorang lelaki dan fitrah yang mengarakter pada diri setiap wanita. Sehingga, sangat tidak masuk akal jika ada wanita yang tidak ada rasa malu sedikit pun dalam dirinya.</p>
<p>Karena itu, beruntunglah orang yang punya rasa malu. Kata Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu &#8216;Anhu, “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya, niscaya orang-orang tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.”</p>
<p>Perlu diingat, kata malu, bukan rendah diri. Rendah diri (khajal) adalah penyakit jiwa dan lemah kepribadian akibat rasa malu yang tidak pada tempatnya. Sebab, sifat malu tidaklah menghalangi seorang untuk tampil menyuarakan kebenaran. Sifat malu juga tidak menghambat seorang Muslimah untuk belajar dan mencari ilmu. Contohlah Ummu Sulaim Al-Anshariyah.</p>
<p>Dari Ummu Salamah Ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha—berkata, “Suatu ketika Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, menemui Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam, seraya berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Apakah seorang wanita harus mandi bila bermimpi?” Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam menjawab, “Ya, bila ia melihat air (mani yang keluar karena mimpi).” (HR. Bukhari).</p>
<p>Rasa malu tak lain merupakan refleksi keimanan, laksana perisai yang dapat mencegah seseorang dari melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Bahkan mulia atau hinanya akhlak seseorang dapat diukur dari rasa malu yang ia miliki. Karena itulah, malu tak dapat dipisahkan dari keimanan. Keduanya selalu hadir bersama-sama. Makin kuat iman seseorang, makin tebal pula rasa malunya. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda, “Iman itu memiliki 60 sampai 70 cabang, yang paling utama ialah pernyataan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” (Muttafaq ‘alaih).</p>
<p>Tanpa rasa malu, seseorang akan leluasa melakukan apa pun yang ia inginkan, meski hal itu bertentangan dengan hati nuraninya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda, “Jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu.” (HR. Bukhari).</p>
<p>Benar, ketika budaya malu tak lagi tegak dalam suatu masyarakat maka itulah saat awal kehancuran dan kebinasaannya. Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam menggambarkan betapa rasa malu harus dibudidayakan demi keselamatan sebuah bangsa.</p>
<p><strong>Pembagian Sifat Malu</strong><br />
1. Malu kepada Allah Subhaanahu Wata&#8217;ala.<br />
Celaan Allah itu di atas seluruh celaan, dan pujian Allah Subhaanahu Wata&#8217;ala itu juga di atas segala pujian. Orang yang tercela adalah orang yang dicela oleh Allah. Orang-orang yang terpuji adalah orang-orang yang dipuji oleh Allah.  Maka haruslah lebih malu kepada Allah dari pada yang lain.</p>
<p>Malu kepada Allah adalah jalan untuk menegakkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Karena jika seorang hamba takut dicela Allah, tentunya ia tidak akan menolak ketaatan dan tidak pula mendekati kemaksiatan. Karenanya, malu merupakan sebagian dari iman.</p>
<p>2. Malu pada diri sendiri<br />
Malunya seseorang terhadap dirinya. Inilah salah satu bentuk malu yang di rasakan oleh jiwa yang terhormat, tinggi dan mulia, sehingga ia tidak puas dengan kekurangan, kerendahan dan kehinaan. Karena itu Anda akan menjumpai seseorang yang merasa malu kepada dirinya sendiri, seolah-olah di dalam raganya terdapat dua jiwa, yang satu merasa malu kepada yang lain. Malu inilah yang paling sempurna karena jika pada dirinya sendiri saja sudah demikian malu, apalagi terhadap orang lain.</p>
<p>3. Malu pada orang lain<br />
Malunya sebagian manusia kepada sebagian yang lain.  Sebagaimana malunya seorang anak kepada orangtuanya, isteri kepada suaminya, orang bodoh kepada orang pandai, serta malunya seorang gadis untuk terang-terangan menyatakan ingin menikah.</p>
<p>Ketiga rasa malu di atas seyogyanya ditumbuhkembangkan dan dipelihara terus menerus oleh setiap Muslim. Apalagi malu pada Allah Subhaanahu Wata&#8217;ala. Sebab, malu kepada-Nya inilah yang menjadi sumber lahirnya dua jenis malu lainnya.</p>
<p>Bisa dibayangkan jika rasa malu itu hilang pada diri seseorang, maka segala perilakunya tidak akan terkontrol. Mempertontonkan aurat dianggap tren bahkan menjadi tontonan sehari-hari keluarga kita. Begitu hebatnya bencana yang muncul akibat hilangnya rasa malu. Oleh karenanya, memupuk rasa malu agar tetap terpatri erat dalam hati adalah kewajiban kita. Waspadailah fenomena hilangnya rasa malu, agar tidak menjadi pribadi yang hancur berantakan.</p>
<p><strong>Keutamaan Rasa Malu</strong><br />
1. Rasa malu adalah penghalang manusia dari perbuatan dosa<br />
Rasa malu adalah pangkal semua kebaikan dalam kehidupan ini, sehingga kedudukannya dalam seluruh sifat keutamaan adalah bagaikan kepala dengan badan. Maksudnya, tanpa rasa malu maka sifat keutamaan lain akan mati. Dalam sebuah hadits disebutkan,<br />
“Rasa malu tidak mendatangkan selain kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>2. Rasa malu merupakan salah satu cabang dari iman dan indikator nilai keimanan seseorang<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam melewati seorang Anshar yang sedang menasihati saudaranya tentang rasa malu, maka Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda, “Biarkanlah ia memiliki rasa malu karena malu itu termasuk dalam keimanan.”(HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>3. Rasa malu adalah inti akhlak islami<br />
Anas Radhiyallahu &#8216;Anhu meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam telah bersabda,</p>
<p>“Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah rasa malu.” (HR.Ibnu Majah)</p>
<p>4. Rasa malu merupakan akhlak yang sejalan dengan fitrah manusia<br />
Rasa malu sebagai hiasan semua perbuatan. Dalam hadits yang diriwayatkan Anas Radhiyallahu &#8216;Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam telah bersabda, “Tidaklah ada suatu kekejian pada sesuatu perbuatan kecuali akan menjadikannya tercela, dan tidaklah ada suatu rasa malu pada sesuatu perbuatan kecuali akan menghiasinya.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah). Karena itulah, malu tak dapat dipisahkan dari keimanan. Keduanya selalu hadir bersama-sama. Makin kuat iman seseorang, makin tebal pula rasa malunya. Wallahu Waliyyut Taufiq.Rusmin Nuryadin<br />
(Al Fikrah No.16 Tahun X/Jumadil Ula 1430 H)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syauqi80.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syauqi80.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syauqi80.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syauqi80.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syauqi80.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syauqi80.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syauqi80.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syauqi80.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syauqi80.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syauqi80.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syauqi80.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syauqi80.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syauqi80.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syauqi80.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syauqi80.wordpress.com&amp;blog=8238212&amp;post=3&amp;subd=syauqi80&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syauqi80.wordpress.com/2009/06/19/hilangnya-rasa-malu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18790acf05d4d1e9ad440d15d865b866?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syauqi80</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://syauqi80.wordpress.com/2009/06/19/hello-world/</link>
		<comments>http://syauqi80.wordpress.com/2009/06/19/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 03:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syauqi80</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syauqi80.wordpress.com&amp;blog=8238212&amp;post=1&amp;subd=syauqi80&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syauqi80.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syauqi80.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syauqi80.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syauqi80.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syauqi80.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syauqi80.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syauqi80.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syauqi80.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syauqi80.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syauqi80.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syauqi80.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syauqi80.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syauqi80.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syauqi80.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syauqi80.wordpress.com&amp;blog=8238212&amp;post=1&amp;subd=syauqi80&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syauqi80.wordpress.com/2009/06/19/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18790acf05d4d1e9ad440d15d865b866?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syauqi80</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
